iklan responsif

Cerpen : Teruntuk Belahan Jiwaku Bagian 1




Teruntuk belahan jiwaku…Raiska 
Teramat Sulit bagiku untuk memulai semua kata demi kata ini, karena semua kenyataan ini sudah melemahkan aku.,..Ra… lama aku menanti, lama pula aku berdoa dalam malam di tengah kelam untuk dirimu, lama pula aku melakukan sesuatu agar bisa mempunyai kesempatan berada di dekatmu. 

Selama penantian itu aku pun telah melakukan berbagai upaya agar dapat diterima disisimu kembali. Namun segala upaya yang telah aku lakukan selalu tidak pernah kamu rasakan dan kamu tidak mengetahuinya (hiks….hiks…) yang terakhir aku pun sampai jadi model dan Catwalk di acara perpisahan mahasiswa Deakin Australia dan UIN Malang, dan juga melatih Catwalk pada mahasiswa Deakin. 
Itu semua aku lakukan karena mu…aku kira kamu akan ikutan menjadi model lagi, ternyata tidak…..(hiks…hiks…) kegagalan seperti itulah yang sering terjadi setiap aku berusaha mendekatimu. Aku yang notabenenya jurusan arsitek dengan bahasa inggris yang pas-pasaan terlibat langsung dalam acara HUMBUD melatih dan menjadi model juga (how?...it insanity and misery) dan ngajarin bule itu tidak enak dan selalu salah komunikasi (di cuekin selalu…hiks…hiks…) 

namun aku tetap bersabar dan semaksimal mungkin, hanya untuk mu yang akhirnya harus aku kubur dalam dalam karena sampai akhir acara berlangsung kamu tak nampak (huft…huft) dan hal yang memalukan yang aku lakukan adalah ketika aku yang seharusnya tampil keren dan cool pada saat aku naik panggung dengan secara reflex badan dan tanganku bergerak  lemah gemulai seolah –olah memegang selendang ditangan ( memalukan…hi..hi..) hal ini terjadi karena saat melatih bule itu memakai selendang dan itu terbawa samapi naik panggung, ketiga hal di atas: Takdir, Kenekatan dan Kegagalan setali tiga uang dengan waktu yang tak pernah berpihak kepadaku sehingga tak pernah dapat menyatukan kita (ampyunnnn  L).

Ra…Bagaimana membuat mu cinta kepadaku? Mungkin saat ini kepalaku  sudah terlalu lelah untuk membayangkan dirimu dan hadir dalam mimpi-mimpiku yang indah, Mungkin saat ini telingaku sudah tak mampu lagi mendengar namamu dan tangisan batinmu, Mungkin saat ini bibirku sudah terlalu lelah untuk mendoakanmu di tengah malam yang kelam, Mungkin tanganku sudah lelah untuk menggapai cintamu dan menggenggamnya erat-erat dalam jiwaku, mungkin saat ini kakiku sudah terlalu lelah untuk mengejarmu, mengiringi hidupmu……
NAMUN ternyata hatiku tak pernah lelah untuk menyayangimu yang akhirnya pun, itu semua harus aku kubur sedalam dan serapat mungkin dalam jiwaku….Ra….Saat  aku melihat senyum manis mu satu perasaan suka memukul hatiku, menyiratkan sebuah pertanyaan, akankah aku dapat melihat senyum itu lagi setelah ini dan pada saat itu pula satu perasaan duka memukul hatiku, akankah kita dapat bersama lagi?

Lalu aku terpelencat ke sebuah lamunan, dan ternyata. Dunia ini penuh dengan orang yang aku inginkan, tapi tak menginginkan aku, dan sebaliknya dan aku sangat takut….aku takut di tengah keramaian yang mengokupasi seluruh perasaan sayang ku padamu. karena ternyata. Aku, takut kehilangan orang yang selama ini tak pernah aku miliki dan itu dirimu…


Jiwaku menjerit, menangis, dalam setiap ayunan nafasku, setiap pancaran mataku selalu membawaku pada kegilaan (insanity) dan kesengsaraan (misery.) dan cinta telah membawaku pada kegilaan dan kesengsaraan yang tak terbayangkan hanya agar aku dapat menawan hatimu. Dan hal itu membuatku menjadi dilematis dan senewen menjalani hidup.

namun di ujung sana aku percaya ada setitik cahayamu untukku agar aku dapat melarikan hatiku yang sedih meskipun perasaan cintaku telah menemui jalan yang gelap dan sempit dalam dirimu. Semakin lama semakin sempit lalu buntu, dan semua itu membuatku tenggelam dalam  kesedihan. Segala cara telah aku lakukan dengan rencana-rencana yang hebat sampai pada kekalahan dan kekonyolan yang aku lakukan hanya untuk menawan hatimu…

Ya menawan hatimu, namun semuanya sia-sia karena semua itu tidak pernah kamu dengar, rasakan dan lihat. Rara...menawan hatimu telah menjadi sebuah utopia bagiku. Dan satu-satunya yang dapat aku banggakan dari semua kenyataan ini adalah bahwa aku telah melawan takdir untuk menawan dan memikat hatimu secara laki-laki dan menerima kekalahan ini secara laki-laki pula. 

Karena ternyata, Takdir Cinta ini Terlalu Kuat dan Berat untuk aku Lawan. Harapan Kosong, itulah yang selama ini akhirnya aku gantung. Sering aku disiksa oleh pertanyaan : mungkinkah masih ada waktu untukku? Mungkinkah masih ada cinta untukku? Perlukah aku mengerti dan tau semua pertanyaan itu?mungkin tidak, karena yang aku perlukan adalah menghormati keputusanmu. 

Namun setiap aku memikirkan kembali pertanyaan itu dadaku penuh sesak dan aku disergap rasa sepi. Meski cinta itu telah karam dan tekadku sudah bulat untuk berhenti memikirkanmu dan memisahkan diri dari bayangmu. Semua itu berat rasanya, bak menceraikan Matahari dari Sinarnya. Sering aku menyesali, mengapa terlewatkan olehku detail keindahan serta kebaikanmu selama ini?? lalu pikiranku kembali terpelencat ke masa lalu dan didalam kepalaku muncul bayang-bayangmu: senyummu dan semua yang kutahu tentang Kasih Sayang, Ketulusan, dan Kebaikan, semuanya berasal dari dirimu. 

Engkau yang selalu ada dalam doa-doaku di tengah malam yang kelam, mengapa mengatakan tidak untuk sesuatu yang aku inginkan, keadaan ini benar-benar menghancurkan hatiku dan yang paling tak dapat aku tanggungkan adalah kehilangan belahan jiwaku  untuk selamanya. Dan hal itu bak Rembulan kehilangan Cahayanya, laksana Darah kehilangan warna Merahnya dalam arus tubuhku. Karena Patah Hati, telah menghancurkan setiap sendi-sendi diriku juga keindahan hidupku.

sejauh yang dapat kukenang, Cinta tak pernah lagi datang dan yang tersisa hanya kenangan. Karena terkadang aku sadari Kejujuranmu dan Kenyataan ini sangat menyakitkan.

Kini aku fokuskan kembali hidup dan menata hati kembali, karena musuh terbesarku selama ini adalah waktu dan hukum alam yang mengatakan hanya laki-laki baik untuk wanita baik dan Kusadarkan diriku sendiri dari  Khayalan-khayalan, yang akhirnya Kusadari bahwa Aku Tak Cukup Baik Untukmu. 

Dan semua itu bergema didalam hatiku dan menjadi sebuah ironi yang menuntunku pada sebuah ke ikhlasan…ya, Ikhlas. Belajar untuk ikhlas meski tak rela, belajar untuk memahami, meski tak sehati. Belajar sabar meski terbebani. Dengan perasaan yang tak tertanggungkan menggeletar sepanjang waktu. Namun aku percaya waktu akan menyembuhkan setiap luka dan kini aku bisa kembali tersenyum menapaki setiap jengkal kebodohan dan kekonyolan yang pernah aku lakukan untuk aku gunakan sebagai cerminan masa depan.

 Kuharap semua ini menjadi bingkisan kalbu yang dapat menerangi jalan kita masing-masing.
Dari aku yang mencintaimu secara diam-diam lewat doa ditengah malam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel