iklan responsif

Cerpen Episode 2 : Sebentuk Hati Untuk Rara






Di  balik tembok kamar  yang rapuh serta di temani sekeluarga kecoa yang gemuk, aku kembali merajuk, dan mengingat, betapa lama penantian ku akan balasan surat dari mu, terkadang ingin sekali aku mendengar  langsung semuanya dari mulut mungil mu itu, bahwa kita, tidak  akan pernah bersama lagi. sampai pada ingatan itu, perasaan ku kian tak menentu dan batinku semakin tertekan, hatiku hampa, sehampa bangunan tua tak berpenghuni di Malang kota lama, sehampa tengah malam yang kelam saat aku menggugat tuhan, ya… menggugat tuhan. 

Ketika aku berusaha keluar dari lingkaran kecil yang bernama cinta dan harapan, yang dengan berat hati semua harus aku buang dalam diri. Semua itu membuatku lemas tak berdaya, mata kuyu dan aku dirundung durja tanpa  bisa berkata-kata, karena yang tersisa hanya perasaan yang merana. Ingin rasanya aku melarikan kepedihanku, aku mencari, ketika sore menjelang dan aku tak dapat menemukan tempat dan seseorang untuk melarikan kepedihanku, sepi kembali memangsaku bulat-bulat. Sering  aku berfikir mengapa di dunia ini tidak ada cara agar aku bisa menawan hatimu? Sehingga aku bisa kembali bersamamu.

Di balik tembok kamarku yang rapuh, kupandangi sekeluarga kecoa yang sedang berpesta, seolah-olah mengetahui kepedihanku dan akhirnya menertawakan semua kesedihanku ini. Batinku semakin tertekan dan aku didera rasa cemburu, ketika aku tatap di balik langit kamar terlihat sepasang cecak sedang memadu kasih, dan aku semakin terintimidasi oleh keadaan ini. Dari semuanya, akhirnya aku melihat sinar rembulan membiaskan warna putih menembus balik jendela. 

Sesekali aku pandangi diriku sendiri lewat muka cermin, sambil dalam hati aku berucap, Betapa memilukan keadaan ku ini, karena dilanda cinta tak berbalas, yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa selain mengasihani diri sendiri, terpojok disebuah kamar yang kecil ditemani sekeluarga kecoa yang sedang berpesta dan sepasang cecak yang sedang memadu kasih. Tiba-tiba aku merasa benci pada diriku sendiri dan aku terhenyak mengutuki diri sendiri. Hatiku sempoyongan digelayuti rasa duka nan berkepanjangan dan aku benci ketika dirasuki ide gila yang mulai menguasaiku, meletup-letup didalam fikiran. Terkadang terkhayalkan oleh aku, betapa mengerikannya pengaruh cinta tak berbalas pada seseorang, karena cinta tak mudah untuk berkompromi, tak mudah pula untuk bernegosiasi. 

Terkadang, fikiranku selalu mengatakan bahwa banyak sekali orang yang akan  menggadaikan harta, takhta bahkan nyawa hanya gara-gara cinta, demi seseorang yang paling dinginkannya di muka bumi ini melebihi apapun, dan itu termasuk diriku.  Kutatap diriku sendiri untuk kedua kalinya di muka cermin, lalu terbersit dalam hatiku, menyiratkan sebuah pertanyaan : Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu? Aku bisa apa tuk memilikimu???. Pada malam ini sampai malam berikutnya tak pernah terlewatkan olehku, tanpa memanjatkan pinta pada tuhan yang  Maha pengasih lagi Penyayang agar mengembalikan dirimu padaku. 

Sambil sedikit menggerutu, apakah meminta cintamu Rara,  terlalu banyak untuk diminta?. Bermalam-malam aku sulit tidur dan berusaha menguatkan diri karena harapanku akan dirimu Ra, seakan telah punah. Jika kesedihan itu datang nan tak tertanggungkan, aku berlari menyusuri pesawahan dan sungai metro Malang, semakin cepat langkahku semakin cepat pula kesedihan itu menampar hatiku, ayam-ayam sawah, burung kuntul, tupai-tupai dan ikan-ikan sungai metro yang tak tahu adat itu, membuat batinku semakin tertekan, mereka mengintimidasi diriku dengan nyanyiannya, girang  bukan  kepayang berloncatan kesana kemari, melihat penderitaan bujang  lapuk yang sedang patah hati karena cintanya tak berbalas.
Terkadang pula aku menyusuri Stasiun Kota Baru Malang, berharap ada cinta yang datang. Namun yang aku temukan hanya kehampaan, sehampa dua jalan rel kereta api yang selalu beriringan namun tak pernah dapat bersatu, sehampa depo stasiun yang tak berpenghuni, sehampa gerbong-gerbong kereta tua yang merana dibiarkan teronggok berkarat, disisi rel menunggu lapuk dan kiamat datang. Gila….Gila, sungguh Gila rasanya pengaruh  cinta tak  berbalas. 

Sakitnya tak tertanggungkan. Tahukah engkau Ra, aku punya seribu satu alasan, ide-ide gila, rencana-rencana yang hebat sampai pada kekonyolan yang aku lakukan hanya untuk menawan hatimu. Ya menawan hatimu telah membuatku berakrobat kesana kemari, berbagai teori dan motif untuk menjinakan hatimu yang aku baca dari buku-buku pujangga cinta, mulai dari Shakespere sampai pada Abu Nawas tak juga mampu untuk menaklukan mu. Semuanya menjadi gelap dan berbagai kesimpulan menjadi buntu. Rasanya tak percaya, aku mendapati diriku sekarang menjadi bagian dari cerita-cerita roman cinta, yang cintanya tak berbalas, sungguh “mengiriskan”. 

Ingin sekali rasanya aku memerdekakan diri dari kesedihan dan mengungkapkan tabir ini. Namun semuanya menjadi semakin sulit, saat perasaan itu kembali mendera ku, seperti ditikam ulu hati ini oleh ujung pedang tak berujung, laksana lautan tanpa ikan, semuanya hampa, bak buruh pabrik tanpa penghasilan terlilit banyak hutang, ibarat macan tak punya belang. Cinta memang kejam tak terperikan.

Rara…. Sudah mengertikah engkau arti insanity(kegilaan) dan misery (kesengsaraan)??? Ijinkan aku untuk memberikan gambaran itu, yang aku alami, agar suatu saat nanti, jika engkau mengalami hal yang sama seperti yang aku rasakan semuanya di atas, maka engkau telah menemukan belahan jiwamu serta cinta sejatimu, dan aku harap saat engkau mengalami hal itu, engkau tak akan menyerah untuk menawan belah jiwamu. Masih ingatkah engkau ra, saat engaku KKN beberapa waktu lalu? Dan kita membuat perjanjian, seandainya aku bisa merubah penampilan ku mirip dengan ( Yoon Ji Hoo) pemeran BBF (boys before flower), maka kamu akan menepati janjimu untuk mengajak ku kerumah mu dan mengenalkan aku pada bundamu.

 Meski kita sama-sama tau hal itu mustahil bukan main, tapi aku tetap berusaha untuk melakukannya, hanya semata-mata agar aku bisa selalu melihat senyuman manis dari bibir mungil mu  lagi. Ku panjangkan rambutku, dan senjata rahasiaku “Melilea”, tahukah engkau ra, 2 bulan lebih aku tak makan nasi. Yang aku makan hanya  Melilea dan sedikit sayur, yang itu pun hanya sesekali aku makan sayur, hingga badan ku kering berbalut tulang dibuatnya dan  semua teman-temanku iba, menganggap ku aneh dan sudah gila. Tahu apa mereka tentang cinta!!

yang menganggap aku sudah gila!!! dan kutaksir mereka tidak mengerti sama sekali arti insanity dan misery yang membuatku berbuat seperti ini hanya untuk menawan hatimu dan melihat senyum manis itu lagi. Rambut yang panjang mulai keriting, obat muka agar tampan layaknya bintang pelem korea BBF membuatku seperti Banci  pengkolan Stasiun Kota Baru Malang. puasa yang aku jalani tak mampu sepenuhnya aku lakukan.  Mungkin saat itu tuhan tak sepenuhnya  memihakku. Mungkin inilah KARMA ku yang sudah menyia-nyiakanmu. Sia-sialah aku dibuatNya, karena ternyata semua ini diluar kehendakku. Lantas aku pun telepon kamu dan mengatakan menyerah, karena ternyata, takdir ini terlalu berat dan kuat untuk aku lawan. Batinku semakin tertekan dan aku pun kembali menggugat tuhan di atas sana, saban malam aku tenggelam dalam kesunyian dan aku dimangsa kesepian, sambil sedikit menggerutu, apakah memberikan cintamu Rara terlalu berat untuk  Tuhan  kabulkan?terlalu banyak untuk aku pinta? Dan aku pun tertidur karena terlalu lelah bersedih. Sampai pagi tiba, kesedihan tak kunjung hilang dariku.

Sering terfikirkan olehku, kenapa ya, cinta selalu membawa pelakunya pada kegilaan dan kesengsaraan yang tak terperikan, hanya untuk orang yang dicintainya??. Dan seandainya engkau tahu Rara, pengaruh mimpi yang di akibatkan cinta tak berbalas, semuanya terasa aneh. Ijinkan aku ceritakan mimpi ku ini. Dalam mimpi itu, semuanya putih, langit putih, dinding putih, lantai putih dan entah, aku pun tak tahu sedang dimana.  Yang aku lihat hanya kesunyian yang senyap dan pada saat itu pula aku melihat dirimu Rara berjalan kearahku, tersenyum penuh makna, dengan  wajah yang  memancarkan cahaya harapan dan aku hanya bisa diam terbujur kaku.  Saat itu pula engkkau menyerahkan sebuah surat lalu berbalik dengan satu gerakan yang mengesankan penuh pesona meninggalkanku dalam kesendirian lantas menghilang.  Aku baca surat mu itu “ Mas maaf, sudah ada yang menawan Hatiku”. lantas semuanya menjadi gelap, dinding gelap. Langit gelap, lantai gelap dan kulihat bintang-bintang di langit sana, aneh-sungguh aneh bintang-bintang itu,  semakin besar dan  membesar, akhirnya runtuh mengejarku dan aku pun berlari sekuat tenaga dengan penuh ketakutan sambil sesedikit menengok bintang yang tak tahu adat itu, 

dan ternyata bintang itu adalah kodok dan pada saat itu pula bintang terbesar menimpa tubuhku. remuk redam rasanya. Lantas aku terbagun dan ternyata ketika aku membuka mata. Ada seekor kodok sedang bertengger dengan manisnya di pipiku, aku kaget bukan kepalang dan kuhempaskan kodok itu sekuat tenaga sambil mengingat mimpi itu, dengan hati yang lebam, remuk membiru membaca suratmu dalam mimpi.

Dan akhirnya….akhir dari semua hal yang menyakitkan ini, keputusan pahit yang harus aku ambil, yaitu meninggalkan Kota Malang tercinta dan mungkin tak akan pernah kembali. Aku tak dapat tinggal disini. Aku tak dapat melihat Kampus UIN Malang tanpa rasa Cemburu. Aku tak dapat melihatmu Rara tanpa merasa Patah Hati dan aku tak kuasa melihat tupai-tupai, burung-burung kuntul, ayam-ayam sawah dan ikan-ikan sungai metro Malang yang tak tahu adat itu tanpa merasa Malu, karena tak dapat menawan hatimu. 

Aku akan ke Jakarta dengan segudang daftar kegiatan yang akan aku lakukan agar aku bisa melupakan kepedihan yang tak terperikan ini. Mulai kursus bahasa Inggris. Menjadi Aktivis Sosial, berhenti mendengarkan lagu-lagu cinta lagi, menjadi penyayang  binatang, membuka konseling bagi orang-orang yang  patah  hati dan cintanya tak berbalas, meneruskan menjadi model balsem cap kampak merah di Jakarta sana, sampai menjadi Arsitek yang hebat. Aku harap semua surat ku ini tidak menjadi hiburan semata, karena semua hal yang aku ceritakan ini, kejadian-kejadian aneh, kekonyolan-kekonyolan dan kebodohan yang aku lakukan. Adalah Benar  adanya dari apa yang aku alami. Dan aku berikan kepadamu agar Rara dapat  Merasakan yang aku Rasakan, Melihat yang tidak pernah kamu Lihat dan Mendengar yang tidak pernah kamu Dengar.
Dari aku yang Patah hati dan Cintanya tak berbalas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel