iklan responsif

Cerpen Ke 3 : Motion Of Love






 Jakarta, 13 Agustus 2011

Love of Solace
Jakarta, 13 Agustus 2011 tak terbayakan oleh orang udik ini, sekarang aku….berdiri di puncak tertinggi monument nasional (Monas) dengan perasaan haru membiru sambil menatap langit biru kota Jakarta. Tak pernah terfikirkan apalagi terbayangkan mozaik hidupku yang ingin berlari dari patah hati karena cinta tak berbalas, akhirnya membawaku ke kota Jakarta dengan hati yang luluh lantah diterjang badai penolakan nan menyakitkan. Ku mulai mengawali dan menulis kembali surat terakhir ini untukmu hanya untuk membuktikan bahwa apa yang ku alami bukanlah dusta nan bohong semata, atas kebodohan yang pernah aku lakukan, rencana-rencana hebat, berbagai upaya yang telah aku lakuan sampai kejadian-kejadian aneh yang menimpa diriku adalah nyata semata atas apa yang aku alami, serta pernah aku buktikan kepadamu dan hanya agar aku bisa melihat senyum manis dari bibir mungil mu lagi untuk yang terakhir kali, aku rela menulis semua ini meski mataku sembab, badanku kuyu kering dan garing,mukaku kusut dan aku dilanda demam aneh yang tak tertanggungkan, ketika aku kembali mengingat dan menyatukan kembali serpihan mozaik-mozaik serta puzzle-puzle kehidupan ku yang penuh akan dirimu, menyesak didalam dada seperti bus kopaja dijejali penumpang penuh sesak tak mampu bergerak, pengap, bau, reot, panas dan macet, laksana monas di tengah malam nan kesepian, diam, dingin, angkuh, namum menyimpan kepedihan karena kesendirian dan  hatiku semakin remuk, membiru sakit nan tak terperikan, akan tetapi semua kenyataan ini merupakan bukti tak terbantahkan, bahwa aku adalah laki-laki yang amat mencintaimu melebihi apapun, melebihi siapapun di dunia ini.

 Love of Solace
Suatu hari di hangatnya senja sore terpapar mentari yang akan kembali keperaduannya, memancarkan kehangatan cinta kasih sang mentari kepada mahluk bumi yang dahaga menunggu berbuka puasa, suatu kegembiraan terpancar pada diri mereka, berduyun-duyun, bercahaya-cahaya memberikan kebahagiaan dan keceriaan pada sesama, saat itu pula setelah aku menelpon dirimu, berbincang dengan bundamu suatu kebahagiaan memuncah, meluap-luap dalam diri, kerinduan mulai menggerogoti hati, merinding aku dibuatnya Manahan tetesan air mata kerinduan yang tak tersampaikan, saat itu pula perasaan sedih menghantuiku, menikam ulu hati, menggencet tubuh ini, sesak nafas aku dibuatnya menahan perasaan cinta tak terbalas, sakitnya tak terperikan. Karena rindu ini rancu, sering aku ragu, apakah ini semu, karena telah aku cari di segala penjuru, tak pernah jua aku bertemu, obat hati penawar rindu. Dan akhirnya aku hanya bisa diam membisu mengutuki diri sendiri karena telah menyia-nyiakan mu. Itulah rindu ku padamu Ra sebentuk rindu yang tak pernah tergantikan, dan pada saat itu pula aku terpelencat kedalam sebuah ingatan akan surat ku yang kamu baca dan temanku baca, setelah tak sengaja membaca temanku berkata “Apakah aku bisa menemukan pria sperti ini? kapankah belahan jiwaku datang menghampiri dan berusaha menawan hatiku? Jawabnya dengan linangan air mata menatapku seolah-olah aku adalah spesies mahluk langka yang akan segera punah, seperti spesies monyet lutung jawa” yang lain berkata “apakah semua ini nyata? Berarti kemarin-kemarin sampean seperti banci Pengkolan stasiun kota baru malang itu, badan sampean kurus itu, laksana tulang berbalut kulit, rambut kriting serupa gembel…itu karena cinta, gila…gila sampean sungguh tidak waras mas” ujarnya dengan mata bekaca-kaca. Sedangkan rara, diam, termenung, berfikir dengan kening mengkerut tak percaya, meski semua bukti aku hadapkan padamu. Rara, Kaisar Sah jahan sudah membangunkan Taj Mahal untuk istrinya Mumtaz mahal sebagi bentuk cinta nan tak tergantikan kepada istrinya itu. Bandung Bondowoso sudah membangun 999 candi untuk Roro Jongrang yang bernama candi prambanan. Sangkuriang sudah membangun bendungan dan perahu untuk orang yang sangat dicintainya di dunia ini Dayang Sumbi, perahu itu sekarang menjadi gunung Tangkuban perahu. Dan aku Ra, telah membangunkan untuk mu Stasiun Kota Baru Malang dalam 1,5 tahun yang panjang melalui asistensi,prustasi, konservasi, nilai-nilai islami, melalui malam-malam yang kelam  terus begadang, beratus-ratus literatur dan karya ilmiah mulai dari ujung Timur sampai Barat, mulai UB sampai ITB, melalui survey lapangan yang panjang  dari stasiun Hall bandung, Gubeng Surabaya sampai stasiun Blitar telah aku datangi, aku resapi dan nikmati romantika historika masa lampau hanya untuk membangun sebuah monument cinta stasiun kota baru malang ini, sebagi bukti tak terbantahkan cintaku padamu melebihi apapun didunia ini, karena aku temukan ide skripsiku ini dari “bingkai senyum manismu Ra”.

Etalase Kehidupan
27 Juli 2011 Hati ku hampa sehampa seperempat malam tanpa bulan nan bintang, sehampa benua antartika nan dingin tak berpenghuni, semakin lama aku di malang semakin membeku hatiku karena cinta telah meninggalkan aku sendiri dengan keadaan mengenaskan. dan pada saat itu pula aku meninggalkan kota malang tercinta dengan mata sembab, badan ku kuyu dan aku dirundung kesedihan nan mendalam, sedalam palung laut sendang biru, sejauh negeri tirai bambu, sebesar gunung anak Krakatau. pada saat itu pula fikiranku terpelencat kedalam pertemuan terakhir kita, dari semuanya itu satu hal yang membuat keberadaan ku kian tertekan nan mengiriskan, dan pada saat itu belum sempat aku berkata padamu rara bahawa aku akan selalu bersedia untuk selalu mencintaimu meski kulit mu sudah keriput, selalu berada disampingmu saat engkau tua nanti, mencabuti uban di rambutmu, menggunting kuku-kukumu saat kau tua renta nanti, selalu tersenyum meski letih menyiksaku, menggendongmu saat engkau tak mampu lagi berjalan, menyuapimu saat engkau lapar, aku tak akan pernah kemana-mana dan tak akan pernah berpaling darimu, aku akan selalu disampingmu, menggengam erat tangamu, tak kemana-mana sampai ajal menjemput sekalipun….namun,,,ah..lagi-lagi, belum sempat aku katakan itu semua engkau sudah memotong kata-kataku “maaf mas, sampeyan pasti akan mendapatkan yang lebih baik dari rara”. Semua terasa lambat, semua terasa hening, diam, gelap pandanganku, kaku mulutku, tak pernah terfikirkan, aku alami perasaan cinta mengenaskan seperti ini, terbayangkan olehku kisah-kisah cinta nan mengenaskan,, dan ternyata tak ada kisah-kisah cinta di dunia ini mulai dari timur sampai selatan, mulai dari pribumi sampai luar negeri yang lebih mengenaskan dari kisah cintaku. Romeo dan Juliet sekalipun masih beruntung, meski cinta mereka kandas karena kedua orang tua yang tak merestui dan kematian jadi ahkir cinta mereka tapi lihatlah mereka, tetap saling mencintai sampai akhir hayat tak terpisahkan oleh apapun dan siapapun. Kisah cinta Layla majnun dari jazirah arab, meski cinta Qais tak pernah dapat menyatu dengan layla, namun lihatlah betapa mereka saling mencintai, meski orang tua, sanak dan saudara menganggap mereka sudah gila, namun cinta mereka tetap setia hingga ajal tiba meski tak pernah dapat bersatu….namun lihatlah aku, disini seorang bujang lapuk yang cintanya kandas tak berbalas bahkan sebelum aku mengungkapkan isi hatiku, sudah engkau tolak dengan cara yang tegas tanpa ada kesempatan aku tuk berbicara, tanpa ada celah di hatimu. Keadaanku ini lebih mengiriskan dari kisah cinta manapun didunia ini, dengan penolakan yang bertubi-tubi dari dirimu. Dan semua itu membuat hatiku babak belur, remuk redam membiru, perasaanku berhamburan, semburat lari dari hatiku, pada saat itu pula hari-hariku kian tak menentu. Aku putuskan berangkat ke Jakarta tepat jam 9 malam dengan motor sejuta umat supra X, sejauh 960 KM malang-jakarta, selama 26 jam nonstop, dengan hati yang terseok-seok tersiksa sepanjang hari, atas nama hampir terjerembab ke jurang sedalam 10 meter, atas nama hampir bertabrakan karena tertidur sambil mengendarai motor, atas nama hilangnya pelat motor dan dikejar-kejar polisi, atas nama simpang lima gumul, atas nama hamper digerayangi dedemit dan kuntilanak yang tak tahu adat itu, sambil terus tersirat dalam fikiranku, kenapa ya nasib sial selalu menimpaku, coba bayanakan jika terjadi sesuatu denganku, mungkin akan terpampang di Koran Jawa pos atau Radar malang, Kediri dan Blitar  “seorang bujang lapuk yang patah hati karena cintanya tak terbalas ditemukan mati terkapar, konon karena digerayangi kuntilanak”. Aih, tak elok nian….namun dari semua hal diatas yang paling menyayat hati ini adalah ketika aku temui sebuah persimpangan nan megah, simpang lima gumul namanya ketika aku Tanya kepada mbah Google, dan tuhan memperlihatkan sebuah kenyataan, melalui fenomena aktifitas astral yang sebelumnya pernah terjadi, semburat membuncah membuka gerbang kepiluan akan rindu nan tak tertanggungkan ketika aku melihat dirimu namun di saat itu pula setumpuk cemburu meluap-luap dalam diri ketika aku harus pasrah dan kalah melihat pria ganteng dari Kediri itu, tuhan mambukakan sedikit Etalase kehidupan kepadaku tentang dirimu dan semua ini mengecilkan hatiku, sekecil plankton di tengah samudera lautan, sekecil semut merah ditengah rimba belantara lebatnya hutan. Apa munkin aku sudah tidak waras, karena cintaku tak berbalas, karena konon cinta dan gila selalu berbading lurus.


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”( Al-Hujarat ayat 13).
Ayat di atas ini, adalah jawaban tuhan kepadaku, ketika aku menuntut tuhan dia atas sana karena kecewa, atas sebuak kata yang keluar dari mulut mungil mu itu bahwa bunda hanya ingin menantu yang dekat dengan kota blitar sehingga seakan-akan orang udik ini tak akan pernah mempunyai kesempatan untuk menaklukan hati bunda mu untuk merestuiku. Dan ayat di atas adalah jawaban untuk mu Rara, dan seluruh orang tua dimuka bumi ini bahwa jarak dan suku bangsa seseorang yang menjadikannya jauh dari rumahnya tak akan menjadi sebuah persoalan. Selepas aku di Purwakarta setelah perjalanan yang panjang dari Malang tuhan rupanya merasa kasihan akan penolakan-penolakn cinta yang mengiriskan, dan selepas dia memberikan ayat-ayat di atas tuhan membawaku kepada petualangan, tuhan rupanya membukakan mataku akan wanita-wanita dari berbagai bangsa, dimulai dengan wanita-wanita keturunan arab, berwajah khas eropa timur, bermata biru, rambut ikal lurus nan berwarna, hidung mancung dengan presisi yang mengangumkan, betubuh langsing nian persis gitar spanyol, berkaki jenjang dan panjang karena rata-rata tinggi mereka 170 cm, jika tersenyum makan lemas lah tubuh ini mereka aku temukan di kampong arab di bogor, empang pulau namanya, disisi yang lain tuhan pun memperlihatkan tipikal wanita khas mediterania, Byzantium, wanita-wanita Persia, wanita dengan aura Putri Cleopatra, maka pantas saja Mark Anthony dan Julius Cessar tergila-gila pada Cleopatra. typical wanita seperti ini aku temukan di kampung halaman ku di purwakarta, berkulit putih, tinggi, memiliki keangkuhan mendalam laksana putri-putri raja serta memiliki pandangan yang tajam menusuk kedalam kalbu namun menyejukan, memiliki rambut lurus hitam legam, jika mereka berjalan semua pandangan akan tertuju kepada mereka seolah-olah bumi ini hanya diciptakan untuk wanita seperti mereka. Di Jakarta aku temukan banyak wanita tionghoa, amoy panggilan gaulnya, cobalah naik busway pada sore dan dan malam hari pasti penumpangnya adalah keturunan tionghoa wanita seperti mereka memiliki kulit putih bersih sebagian kuning langsat, terasa halus dan terawat, hidung yang kecil mancung dengan presisi ¾, mata kecil hitam bak biji  salak, kurus-kurus namun pada berisi dan jika mereka tertawa maka merindinglah bulu kuduk ini. Lantas dimana posisiku?? Tuhan menepatkan posisiku sebagai observator agar aku tak lagi bersedih karena cinta yang tak berbalas. Tuhan ingin mengatakan bahwa masih banyak wanita di dunia ini. Namun sering kali pula aku teringat kata penolakan mu yang halus namun dalam, namun yang lebih parah dirimu selalu ingin membandingkan seberapa hebat kita bisa menaklukan ornag lain, mari kita bandingkan, apa pernah ada laki-laki yang melihat mu dia langsung histeris teriak-teriak? Karena nge-fans ma kamu?? Apa ada laki-laki yang melihatmu dia lantas terjatuh dari tangga? Atau mungkin terjatuh dari motor? Karena kagum akan dirimu? Apa pernah ada laki-laki didunia ini yang membacakan surat cinta untukmu dihadapan hampir 2000 orang?? Apa pernah ada laki-laki yang menyuratimu secara bersamaan sehingga tak muat tas mu karena terlalu banyak surat cinta?? Berapa banyak laki-laki yang memintamu secara langsung ingin menikahimu selain aku?? Apa ada Pejantan Tangguh di dunia ini yang sekuat, setegar dan mampu bertahan selain diriku, meski hatiku babak belur, hancur lebur ditikam penolakan mu yang bertubi-tubi??? Seberapa keras mereka mampu mencintaimu dan menaklukan hatimu??apa ada yang melebihi aku?? tanpa prustasi karena selama di Jakarta, besar harapanku setiap melihat polisi, ingin sekali  rasanya aku memborgol hatimu untukku, memenjarakan cintamu, namun tak pernah sedikitpun tersirat dalam hati setiap kali aku melihat pemadam kebakaran, aku meminta mereka untuk memadamkan api cintaku yang berkobar-kobar dengan hebatnya dalam hati ini….tak pernah Ra…tak pernah……




Aku dan Jakarta
Sejak telepon ku terakhir kepadamu sore hari itu, di awal Oktober….Sesuatu kembali menyesaki dadaku, membuat badanku lemas, lemah, membuatku tak berdaya, semangat hidupku seolah-olah telah meninggalkan diriku, daya juanku untuk menaklukan Jakarta sedikit-demi sedikit menghilang, karena hatiku kian mengecil di kikis angan harap yang kini kerdil.
alhamdulilah sebelum aku wisuda aku sudah kerja, namun ternyata Jakarta tak pernah mampu membendung rasa rindu ku padamu, serindu punguk merindukan rembulan, dan dengan cara yang aneh, setiap kali aku mendengar kata “Malang” selalu membuat rindu yang menyiksa menjadi indah.

Jakarta 24 Oktober 2011
Waktu kian berlalu, hari kian tak pasti, sampai saat aku tiba kembali ke Jakarta setelah wisuda, tak ada lagi kata-kata yang dapat aku ungkapkan saat kamu Rara telpon aku, karena aku diam bukan berarti aku marah, aku cuek bukan berarti aku acuh, aku pergi bukan berarti aku kalah, aku tersenyum bukan berarti bahagia, karena sepertinya luka, menghampiri hatiku dan aku hanya bisa tencenung dan tercekat dan akhirnya membawaku kepada ketiadaan. Tiada tara tidada terasa waktu cepat nian berlalu, rasanya baru kemarin aku melihat senyum manismu dan tanpa terasa senyum itu berubah menjadi senyuman mu yang terakhit untukku, hatiku kian bimbang, persendianku terasa lemas, badanku gemetaran, demam panas melandaku dan akhirnya aku sadari 7 bentuk macam rindu melandaku, meski tak pernah pudar kenanganku akan dirimu Ra, aku sadar diri tak akan pernah bisa memilikimu lagi. Kini apakah kamu sudah merasakan apa yang aku rasakan ? karena kini aku sudah berada jauh dari dirimu. Sejauh 980 Km Malang – Jakarta, selama 26 jam perjalanan. Dan bagaimana jika suatu saat nanti rasaku ini adalah rasamu??? Apa kamu yakin sanggup untuk untuk menahan sakit dan perihnya hatimu??? Meski aku sadari penolakan mu akan diriku adalah karena kesalahanku, namun tak akan mudah bagiku meninggalkan kenangan terindah dalam hidupku akan dirimu, karena senyummu mampu mencairkan kebekuan dalam hatiku, karena dirimu selalu mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi mempesona.

Kini mulutku membisu, fikiranku semburat berlarian tak tentu arah, hatiku kian kaku karena dirimu hanya diam membisu yang akhirnya baru aku sadari cintaku bertepuk sebelah tangan, sesuatu kembali menyesaki dadaku, remuk redam, persendian serasa terlepas, ulu hatiku tertohok tak terperikan dan secara simultan pada saat itu pula hatiku terendam air mata rindu, sungguh rindu sampai rasanya aku membeku dan tanpa aku duga tanpa aku rasa Tuhan mengingatkanku melalui sesuatu yang tak pernah aku bayangkan, tuhan berkata “ jangan pernah menghabiskan waktu, fikiran dan perasaanmu hanya untuk seseorang yang tak pernah menaruh namamu di hatinya”. Meski tersirat dalam hatiku, bertumpuk-tumpuk, menggunung-gunung akan dirimu yang mengabaikan perasaanku. Pujaan Hatiku Raiska Esfandiary, inilah saat terakhir dari semuanya, aku pergi meninggalkanmu, meninggalkan hatimu untuk selamanya, Karena Aku Bukanlah Pilihan Hatimu….



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel